Rabu, 01 Mei 2013

Makalah Hadits



Hadis Pra Kodifikasi

Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Pendidikan Dasar Hadits
Dosen Pengampu : Safruroh, S.Th.i., M.Pd.I






Disusun oleh :
Poppy Octaviany



FAKULTAS TARBIYAH
JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM DARUSSALAM
CIAMIS-JAWA BARAT
2013



KATA PENGANTAR

         Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Alloh SWT, karena berkat  rahmat dan karunia-Nya saya dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Hadist Pra Kodifikasi. Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pendidikan Dasar Hadist. Pada kesempatan ini saya ucapkan terima kasih kepada ibu Safruroh, S.Th.i., M.Pd.I
  selaku dosen mata kuliah Pendidikan Dasar Hadist.
Dengan segala kerendahan hati saya mengakui makalah ini masih jauh dari sempurna, karena pengetahuan, kemampuan dan pengalaman saya yang masih sangat terbatas. Oleh karena itu, apabila ada saran dan kritik dari semua pihak akan saya terima dengan tangan terbuka untuk perbaikan  makalah ini di masa mendatang. Walaupun demikian, saya berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi saya khususnya serta bagi pembaca pada umumnya.











BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Keberadaan hadist sebagai salah satu sumber hukum dalam islam memiliki sejarah perkembangan dan penyebaran yang kompleks. Sejak dari masa pra kodifikasi, zaman Nabi, Sahabat dan Tabi’in hingga setelah pembukuan pada abad ke-14. Perkembangan hadist pada masa awal lebih banyak menggunakan lisan, dikarenakan larangan Nabi untuk menulis hadist. Larangan tersebut berdasarkan kekhawatiran Nabi akan tercampurnya nash Al-Qur’an dengan hadist. Selain itu juga disebabkan fokus Nabi pada para Sahabat yang bisa menulis untuk menulis Al-Qur’an.
Larangan tersebut berlanjut sampai pada masa tabi’in besar. Bahkan dengan Khalifah yang lain. Periodesasi penulisan dan pembukuan hadist secara resmi dimulai pada masa pemerintahan Khalifah Umar ibn Abd Aziz (abad 2 H). Terlepas dari naik turunnya perkembangan hadist, tak dapat dinafikan bahwa sejarah perkembangan hadist memberikan pengaruh besar dalam sejarah peradaban Islam.
B.     Rumusan Masalah
1.Bagaimana perkembangan hadist pada masa Nabi Saw?
2.Bagaimana permasalahan Hadist Pra kodifikasi?
C.    Tujuan Penulisan
 Adapun tujuan penulisan makalah ini saya buat adalah untuk mengetahui tentang masalah yang saya rumuskan di atas.

      



                                                   


BAB II
                                                                 PEMBAHASAN
A.    Hadist Pada Masa Nabi Saw
        Allah swt telah memilih Rasulnya Muhammad guna untuk menyampaikan risalah ketuhanan kepada seluruh ummat manusia, membacakan ayat-ayatnya serta mengajarkan Kitab Suci al-Qur’an dan juga hikmah. Allah swt juga telah memberikan kepada Rasulullah saw beberapa karunia yang sangat besar lagi sempurna serta mengajarkannya apa-apa yang belum ia ketahui. Allah berfirman:
       Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, tentulah segolongan dari mereka berkeinginan keras untuk menyesatkanmu. Tetapi mereka tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak dapat membahayakanmu sedikitpun kepadamu. Dan ( juga karena) Allah telah menurunkan kitab dan hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu” (Q.S.al-Nisa/4:113)
Dalam menyampaikan risalah-Nya, beliau menghabiskan waktu dua puluh tiga tahun lebih, sekaligus merupakan periode pengajaran terhadap sendi-sendi dasar bagi pembangunan peradaban  islam yang luhur, yang telah merubah wajah sejarah dan mengembangkannya dalam berbagai aspek kehidupan.
Dalam mengemban tugas sucinya yang sangat berat tersebut, beliau menghadapi berbagai macam cobaan dan rintangan serta penuh resiko, yang tentunya hal itu hanya dapat dilalui oleh mereka yang memiliki  keteguhan iman dan hati. Metode Rasulullah saw dalam menjrlaskan risalah ketuhanan (baca:al-Qur’an) tersebut, adakalanya melalui perkataan (aqwal), perbuatan praktis (af’al), maupun ketetapan (taqrir). Oleh karenannya, segala apa yang dilihat atauoun disaksikan oleh para sahabat, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun taqrir beliau merupakan landasan bagi amaliyah sehari-hari mereka yang wajib untuk diikuti dan ditaati.
       Pada masa ini, Nabi juga memerintahkan kepada mereka, lebih khusus pada sekertarisnya untuk menulis al-Qur’an setiap wahyu turun kepadanya. Pada kesempatan yang sama beliau juga melarang untuk menuliskan sesuatu selain al-Qur’an.
Metode-metode hadist Pra kodifikasi :
1.      Metode (manhaj) Rasulullah dalam mengajarkan hadist
Pada hakikatnya, metode yang digunakan rasullulah dalam mengajarkan hadist kepada para sahabatnya tidaklah jauh berbeda dengan metode yang digunakan beliau ketika mengajarkan Al-Qur’an. Aspek metodologis yang rasulullah gunakan sebagai berikut:
a.       Pengajaran bertahap. Metode ini digunakan Rosululloh saw. Dalam rangka menjelaskan al-Quran, karena penjelasan beliau baik dalam bentuk perkataan, perbuatan, maupun taqrir-nya merupakan sunnah.
b.      Mendirikan pusat-pusat pengajaran. Rosululloh saw. Menjadikan Dar al-Arqam sebagai pusat (markaz) dakwah Islamiyah, yang sebelumnya beliau berdakwah secara sembunyi-sembunyi. Rosululloh menggunakan tempat tinggalnya di Mekkah sebagai pusat kegiatan kaum muslimin yang ingin mempelajari dan menerima sunnahnya.Selain yang diseebutkan diatas, beliau dalam mengajarkan sunnahnya kadangkala tidak terikat oleh tempat atau situasi tertentu. Ketika beliau di perjalanan ditanya tentang suatu masalah, maka di tempat itu pula beliau memberikan fatwanya.
c.       Lebih mengedepankan etika dalam pengajaran. Rosululloh saw. Disamping sebagai figure pendidik beliau juga sebagai penyelamat, pengajar, dan sekaligus sebagai pebimbing yang baik. Dalam mengajarkan sunnahnya beliau menggunakan bahasa yang santun dan dapat menentramkan hati para pendengarnya.
d.      Bervariasi dalam pengajaran. Metode ini digunakan untuk menghilangkan kejenuhan dan kebosanan di kalangan para sahabat.
e.       Memberikan contoh praktis kepada para sahabatnya. Metode ini merupakan metode yang paling efektif untuk menanamkan ilmu pengetahuan tanpa dalam jiwa seseorang dalam mempelajarinya. Ilmu pengetahuan yang dibarengi dengan bentuk peragaan praktis akan lebih melekat pada hati.
f.       Menyesuaikan dengan situasi dan kondisi. Rosululloh saw. Sadar sepenuhnya bahwa mengajarkan sunnahnya beliau menghadapi suatu komunitas yang tidak sama baik dalam pola pikir maupun bertindak. Metode untuk menghadapi anak-anak akan berbeda dengan orang dewasa atau orang tua. Dalam proses mengajarnya nabi di samping melihat tingkat intelektual yang dimiliki par audiennya, beliau juga mengedepankan peasaan dan hati nurani. Hal ini dimaksudkan menggugah peraasan dan menggetarkan kalbu.
g.      Memudahkan dan tidak memberatkan. Tujuan penggunakan metode ini disamping agar apa yang disampaikannya mudah dipahami dan diterima oleh semua kalangan masyarakat juga supaya mereka tidak menganggap bahwa Islam adalah suatu agam yang sulit dan terkesan memberatkan.
h.      Mendirikan pengajaran bagi kaum wanita. Selain beliau memberikan pengajian bagi kaum yang umumnya adalah laki-laki beliau juga mendirikan pengajian bagi kaum wanita.
2.      Metode (manhaj) sahabat menerima hadist Nabi
Para sahabat mendapatkan hadist dari rasulluloh dengan bertemu di sembarang tempat, baik di mesjid, rumah, dalam perjalanan, ketika beliau mukim bahkan di pasar sekalipun. Dengan demikian , mereka mudah memperoleh hadist dari rasulullah saw. Para sahabat sangat antusias dan memberikan perhatian yang sangat besar terhadap hadist-hadist nabi dan mereka berusaha keras untuk menerimanya sebagaimana sikap mereka terhadap al-Qur’an.
Perhatian dan semangat yang besar dari para sahabat untuk menerima dan meriwayatkan hadist disebabkan oleh beberapa factor. Menurut M.Syuhudi Ismail hal ini paling tidak disebabkan oleh empat hal, diantaranya :
a.       Petunjuk Allah dalam al-Qur’an menyatakan bahwa nabi Muhammad adalah panutan utama yang harus diikuti oleh orang-orang yang beriman dan sebagai utusan Allah yang harus ditaati oleh mereka. Petunjuk Allah tersebut telah mendorong para sahabat untuk lebih banyak mengetahui dan memperoleh sberita berkenaan dengan pribadi nabi.
b.      Allah dan rasulnya memberikan penghargaan yang tinggi kepada mereka yang berpengetahuan. Ajaran ini telah mendorong para sahabat untuk berupaya memperoleh pengetauhan yang banyak.
c.       Nabi memerintahakan para sahabat utbuk menyampaikan pengajaran kepada mereka yang tidak hadir. Nabi menyatakan bahwa boleh jadi ornag yang tidak hadir akan lebih paham daripada mereka yang hadir mendengarkan yang langsung dari nabi.
d.      Pada umumnya masyarakat cenderung mengikuti perkembanagn dan tingkah laku pemimpinya, lebih-lebih bila pemimpinnya dinilai berhasil. Nabi Muhammad telah dinilai oleh masyarakat sebagai pemimpin yang berhasil. Karenanya tidaklah mengherankan bila tingkah laku nabi selalu menjadi bahan cerita.
B.     Permasalahan Hadis Pra Kodifikasi
Pada saat inilah hadis lahir berupa sabda (aqwal), af’al, dan taqrir nabi yang berfungsi menerangkan al-Quran dalam rangka menegakkan syari’at Islam dan membentuk masyarakat Islam.
Nabi Muhammad saw. Sebagai Rosul, sangat disegani dan ditaati oleh para sahabat, sebab mereka sadar bahwa mengikuti Rosul dan sunnah adalah keharusan dalam berbakti kepada Allah swt. Para sahabat sangat bersungguh-sungguh dalam menerima segala yang diajarkan Nabi Muhammad saw. baik berupa wahyu al-Qur’an maupaun dari hadis Nabi sendiri, sehingga ayat-ayat al-Quran dan hadis nabi benar-benar mempengaruhi jiwanya dan membentuk pribadi para sahabat sebagai orang-orang yang benar-benar muslim. Mereka dapat menghapal dengan baik, mempunyai hapalan yang kuat, ingatan yang teguh serta ,mempunyai kecerdasan dan kecepatan dalam memahami sesuatu.
Sebab penulisan hadist tidak diselenggarakan secara resmi adalah :
1.      Agar tidak ada kesamaan terhadap al-Quran dan menjaga agar tidak bercampur antara catatan al-Qur’an dengan hadist. Karenanya al-Quran dihapal dan ditulis sedangkan hadist dihapal saja
2.      Pencatatan al-Quran yang turunnya berangsur-angsur memerlukan perhatian dan pengerahan tenaga pengerahan. Tenaga penulis yang kontinyu, sedang sahabat yang pandai menulis sangat terbatas, maka tenaga yang ada dikhususkan untuk menulis al-Quran
3.      Menyelenggarakan pemeliharaan hadist dengan hafalantanpa tulisan secara keseluruhan berarti memelihara kekuatan hafalan dikalangan umat islam atau bangsa arab yang sudah terkenal kuat daya hafalnya.
4.      Penulisan hadist dengan segala ucapan,amalan,muamalah dan sebagainya merupakan hal yang sulit sekali secara teknis dibutushkan adanya penulis yang harus terus menerus menyertai nabi saw dalam segala hal.
Penulisan secara perorangan pada masa nabi dilakukan oleh para sahabat, bahkan diantaranya ada yang berusaha membuat koleksi, antaralain :
a.       ‘Abdullah ibn ‘Amr ibn ‘Ash, shahifah-nya disebut al-shadiqah
b.      ‘Ali ibn Abi Thalib penulis Hadist tentang hukum diyat, hukum keluarga dan lain-lain.
c.       Anas ibn Malik
Nabi dalam menyelenggarakan dakwah dan pembinaan umat sering mengirimkan surat-surat seruan dan pemberitahuan. Antara lain surat kepada pejabat-pejabat di daerah dan surat-surat beliau tentang seruan dakwah islamiyah kepada raja-raja dan kabilah-kabilah. Surat tersebut merupakan koleksi hadist juga. Hal demikian membuktikan dilakukannya penulisan hadist dikalangan sahabat pada masa  Nabi SAW yang menyatakan bahwa dilarangnya penulisan sesuatu selain al-Qur’an (hadist), yakni hadist yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id al-khurdi :
“ janganlah kamu tulis sesuatu dariku, dan barang siapa yang telah menulis dariku selain al-Qur’an, maka hendaklah dihapuskannya” Riwayat Muslim.
    Ketentuan hukum dari menulis Hadist :
a.       Larangan menulis hadist berhubungan dengan soal hafalan dan pemeliharaanya,
b.      Titik sasaran atau persoalan larangan penulisan hadist terletak pada soal kekhawatiran tercampurnya antara al-Qur’an dan hadist, maka  ada pendapat yang menyatakan :
(1)      Pada permulaan islam, karena kekhawatiran itu lebih menonjol, maka penulisan hadist dilarang, tetapi sesudah bilangan umat islam yang semakin banyak dan mereka mampu membedakan antara al-Qur’an dan hadist, maka larangan itu sudah tidak perlu lagi dan diizinkanlah penulisan hadist itu.
(2)      Penulisan hadist dilarang bagi penulis wahyu al-Qur’an atau kepada siapa yang menulis hadistnya di tempat yang sama dengan catatan al-Qur’an, sedang bagi yang lain atau penulis hadist secara terpisah dari al-Qur’an diperbolehkan.
(3)      Larangan penulisan hadist berlaku pada saat al-Qur’an diturunkan, maka di waktu selain atau setelah itu, penulisan hadist diizinkan.
(4)      Penulisan hadist dilarang atau tidak dilakukan adalah untuk menyelenggarakan penulisan secara formal seperti tadwin al-Qur’an, tapi diperbolehkan dan dilakukan secara individual.
c.       Bahwa penelitian atas hadist-hadist yang menjadi dasar bagi kedua pendapat tersebut adalah sebagai berikut :
(1)   Hadist yang berisi larangan dihadapkan bagi umum, dan hadist yang mengizinkan menulis hadist ditujukan secara khusus.
(2)    Sebagian ulama berpendapat bahwa hadist Abu Sa’id al-Khurdi Mauquf , tidak dapat dijadikan hujjah. Namun terhadap tanggapan ini ulama lain membantah, karena hadist Abu Sa’id al-khurdi terdapat pada sahih muslim dan marfu.
(3)    Dari kenyataan bahwa wurud Hadist Abu syah pada masa futuh makkah, hadist Abu Sa’id al-khurdi tidak diamalkan secara umum oleh sahabat, dan ijma’ (sukuti) para ulama yang ,membolehkan aktivitas tadwin, merupakan karimah yang kuat bahwa izinlah yang terakhir datangnya.
Periwayatan hadist pada masa nabi saw diselenggarakan secara seksama dan berkembang pesat berkat perhatian yang penuh dari para sahabat dari seluruh umat islam pada waktu itu, baik dari kalangan pria maupun wanita. Dalam tarikh, wanita anshar terkenal sangat aktif memohon pelajaran pada nabi saw, mereka tidak terhalangi rasa malu untuk bertanya soal-soal agama.
                          

                                KESIMPULAN
                      Sejarah hadist pra kodifikasi terbagi menjadi beberapa bagian, untuk lebih memahaminya, berikut uraiannya :
I.                   Hadist pada masa Rasul SAW
Dalam hal ini ada beberapa hal penting yang berkaitan dengan masa itu yaitu :
a.       Cara rasul menyampaikan hadist, melalui jama’ah pada majlis-majlis, ceramah dan pidato di tempat-tempat terbuka.
b.      Keadaan para sahabat dalam menerima dan menguasai hadist, sesuai dengan kapasitas sahabat.
c.       Pemeliharaan hadist melalui hafalan dan tulisan.
II.                Hadist pada masa sahabat :
Kehati-hatian para sahabat dalam hal pembukuan hadist dan pada masa itu belum ada pembukuan secara resmi.





                     





DAFTAR PUSTAKA
Suryadilaga, M.Alfatih.Ulumul Hadis.Yogyakarta: Teras,2010
‘Ajaj Al-Khatib,Muhammad. Ushul Hadits,Jakarta:Gaya Media Pratama,1998
Nor Ichwan, Mohammad. Study Ilmu Hadis,Semarang: RaSAIL,2007
Endang, Soetari. Ilmu Hadits,Bandung: Mimbar,2005